RSPO Serukan Kolaborasi

Wintor X-Plorer Composter untuk Pemupukan Sawit

Asosiasi RSPO, Roundtable on Sustainable Palm Oil, menggelar pertemuan tahunan rutin ke 14 (RT14) November silam. Dalam sam butannya, Datuk Darrel Webber berujar, RSPO mendorong para pemimpin perusahaan dan para pembuat ke bijakan untuk meng ambil langkah yang tepat. “Pihak LSM dan akademisi juga kami desak bergabung untuk memastikan ekosistem sawit yang efektif dan berkelanjut an,” tutur CEO RSPO itu dalam R T14 yang berlangsung di Hotel Shang ri-La Bangkok, Thailand. RT14 mengusung tema “Learning to Li ve Together: From Vision to Transformation”. Tema ini bermaksud mendorong para pemangku kepentingan untuk saling berbagi pengetahuan dan keahlian. Saling bekerjasama dinilai lebih baik ketimbang bersaing untuk menjadi yang paling berkelanjutan.

Komitmen Sawit Berkelanjutan

Dalam RT14, pria yang sebelumnya menjabat sebagai Sekjen RSPO itu mengatakan, kemitraan inklusif menjadi sangat penting pada setiap tahap. “Kami merangkul konsep transformasi pasar dengan komitmen tidak mening galkan siapapun atau mana yang lebih berkelanjutan. Para pemangku kepentingan harus lebih berpartisipasi untuk meningkatkan efektivitas,” terang Webber. Skema sertifikasi, lanjutnya, dapat dipastikan memberikan manfaat terhadap keberlanjutan. Visi tersebut dapat terwujud asalkan melalui kerjasama yang kuat dan aksi bersama-sama. Dalam konferensi ditekankan juga isuisu sosial yang terjadi di wilayah penghasil minyak kelapa sawit. Terkait dengan kontrak kerja, isu gender, kesehatan dan keselamatan kerja serta semua hal terkait. Termasuk bagaimana seluruh rantai pasokan dan peran para pemangku kepentingan dalam industri sawit untuk dapat memberi kontribusi dalam mengatasi persoalan yang timbul. Lalu bergerak maju untuk mewujudkan masa depan yang benar-benar berkelanjutan.

Label “No Palm Oil”

Pada kesempatan yang sama, dibahas pula tentang penggunaan label “No Palm Oil (produk makanan tanpa mi nyak sawit)” oleh anggota RSPO yang berasal dari kalangan produsen makanan. Menurut Datuk Carl BekNielsen, hal itu bertentangan dengan tujuan gerakan untuk mempromosikan minyak sawit berkelanjutan di pasar global. Co-Chairman Board of Governors RSPO itu menyebutkan, selama bebera pa tahun terakhir kekecewaan timbul di antara para petani asal Afrika dan Asia. Kekecewaan tersebut lahir lantaran adanya anggota RSPO yang menggunakan label “No Palm Oil” pada produk mereka. “Ini bertentangan dengan semangat untuk mempromosikan produksi dan penggunaan minyak sawit bersertifikat. Ini juga yang menyebabkan mengapa banyak petani yang menolak bergabung dengan RSPO karena meng anggap tindakan itu tidak sesuai dengan norma yang kami buat, yaitu sa wit berkelanjutan,” cetus Council Member Malaysian Palm Oil Association ini kecewa. Malahan banyak petani kecil, lanjut Bek-Nielsen, yang menilai RSPO sebagai organisasi yang birokratis, lambat, bahkan arogan dan tidak mungkin men capai keberlanjutan. Mimpi keberlanjutan mungkin saja tidak akan terjadi karena pihaknya masih menemukan 489 produk yang menggunakan label “No Palm Oil.” Dari jumlah tersebut sekitar 32% tergabung sebagai anggota RSPO. Sementara Webber menambahkan, penggunaan label “No Palm Oil” tidak akan membantu praktik berkelanjutan. Tidak juga membuat persepsi tanpa menggunakan sawit akan lebih baik. “Kami tidak mengizinkan pencantuman label ter sebut dan pernyataan larangan telah kami keluarkan,” tukasnya.