Masih Ada Asa untuk Padi Hibrida

China memenuhi 57,5% kebutuhan berasnya yang 120 juta ton/tahun dengan padi hibrida. Indonesia ma sih sangat jauh dari itu. Maklum, kita ba ru mulai meneliti dan mengembang – kan padi hibrida sekitar 1983. Sementara China yang notabene “ibukota” padi hi – brida dunia itu memulainya sejak 1964. Lima belas tahun setelah mengawali ri – set padi hibrida, kita baru melangkah le – bih serius. Dan pada 2001, penelitian melibatkan Badan Penelitian dan Pengem – bang an Pertanian (Balitbangtan) yang bekerjasama dengan International Rice Research Institute (IRRI) dan Organisasi Pertanian dan Pangan Dunia (FAO).

Varietas Banyak,

Adopsi Rendah Dari ajang International Hybrid Rice Sym posium 2018, Yogyakarta (1/3), per – kembangan terkini padi hibrida di Tanah Air terungkap mulai dari soal varietas be – nih, tingkat adopsi, juga faktor-faktor yang menghambat penanaman padi ini. Menurut Muhammad Prama Yufdy, Sekre – taris Balitbangtan, dari sisi benih, “Balit – bangtan sudah merilis 19 varietas padi hi – bri da dari 2002 – 2013.” Rilis pertama varietas padi hibrida dila – ku kan pada 2002, yaitu varietas Maro dan Rokan. Kemudian disusul Hipa 3 dan Hipa 4 pada 2004 yang tahan terhadap wereng cokelat biotipe 2 dan agak tahan hawar daun bakteri. Lalu, pada 2007 menyusul Hipa 5 Ceva dan Hipa 6 Jete. Dari periode 2009 – 2013 meluncur Hipa 7-14, Hipa Ja – tim 1, Hipa Jatim 2, dan Hipa Jatim3. Dua yang terakhir adalah Hipa18 dan Hipa 19.

Sayang adopsi petani terhadap varietasvarietas yang produktivitasnya diharapkan lebih tinggi 20% ketimbang varietas inbrida terbaik itu cenderung rendah. I Putu Wardana, peneliti di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Subang, menyebut, “Faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya adopsi petani adalah kurangnya disemina si dan promosi, pre ferensi konsumen, pe nelitian dan pengembangan yang kurang berorientasi pasar.” Sementara itu Zulkifli Zaini, Profesor Ri – set Balitbangtan, menambahkan, potensi penyebab lambatnya perluasan tanam hibrida lantaran harga benih yang relatif tinggi, kesulitan memproduksi benih di dalam negeri, dan tingginya risiko kegagalan produksi benih di dalam negeri.

Walhasil, “Pasokan benih hibrida masih mengandalkan impor 60%-80% dari permintaan benih. Produksi benih padi hi – brida di sini masih rendah, umumnya antara 1,0-1,5 ton/ha,” ujar Zulkifli. Berbeda dengan kalangan pemerintah, Ayub Darmanto dari PT Primasid Andalan Utama, penyedia benih hibrida Mapan me – ra sakan animo petani tinggi untuk me na nam hibrida. Namun pihaknya belum mampu memenuhi permintaan para petani ter se but lantaran produksi benihnya masih terbatas Peranan Swasta Selain Balitbangtan, sejumlah perusaha – an swasta juga merilis varietas padi hibrida. Dalam menyediakan benih, me nurut Yuana K. Leksana, perusahaan ha rus me – me nuhi keinginan empat pihak, yaitu petani, pemerintah, penggilingan, dan rumah tangga. “Petani mem butuhkan varietas yang mampu pro duksi 20% lebih banyak dari padi in brida dan varietasnya tahan BPH (wereng cokelat), BLB, dan blas,” ungkap Category Manager Seeds Corteva Agriscience™, perusahaan swas – ta penyedia benih padi hibrida Pemerintah menginginkan benih bi sa diproduksi lokal.

Sedangkan penggi ling an ingin gabah yang kadar brokennya seperti Ciherang. Dan ibu rumah tangga su ka beras dengan kadar amilosa 19-22% dan berkualitas baik ketika dimakan. Untuk memenuhi permintaan tersebut, lanjut Yuana, harus dilakukan pene l i tian intensif. Corteva Agriscience™ (dulu DuPont Pioneer) membangun lahan produksi yang terintegrasi dengan prosesing dan fasilitas R & D di Malang, Jatim. Perusa haan ini pernah memproduksi hibrida Maro dan Hipa 8. Beberapa petani menilai padi hibrida tidak tahan ha ma penyakit, rasa nasinya tidak enak, dan harga benihnya mahal. Menurut Hasil Sem biring, Ketua Peneliti Padi IRRI Indo ne sia, semua itu bisa teratasi dengan pe ne litian. “Kita tidak bisa mendapat sesua tu yang ba gus tanpa penelitian,” terang nya di sela aca ra Responsible Business Forum (RBF), Jakarta (27/3). Adopsi benih padi hibrida memang ma – sih menghadapi kendala, tetapi perannya untuk ikut menaikkan produksi padi nasional masih diharapkan. Agaknya kita perlu meniru China.